News Update :
Diberdayakan oleh Blogger.

OPINI

TURI TURIAN

LIPUTAN KHUSUS

PROFIL PENDIRI

Kamis, 15 Agustus 2013



Marcopolo Sitanggang, ST

Nama
Tempat/Tgl. Lahir
Agama
Jabatan
Pekerjaan
Alamat
Email
Facebook
Twitter
:
:
:
:
:
:
:
:
:
Marcopolo Sitanggang, ST
Medan, 06 April 1982
Kristen
Wakil Pemimpin Redaksi, Layout dan Admin
Wiraswasta
Tanah Lapang Pangururan - Samosir
Marcopolo Sitanggang
@Marcopolo_2
“Kehidupan hanyalah sementara, sebab kehidupan sesungguhnya adalah berada pada Nirwana yang telah disediakan Tuhan buat umat manusia, sehingga hanya bagaimana mengisi kehidupan yang sementara ini dengan perbuatan-perbuatan yang berguna baik untuk pribadi maupun orang lain. Tiada yang tahu sampai kapan kita akan berada di dunia ini, semua itu hanya tergantung padaNya”

Pergunakan hidupmu sebaik mungkin, bekerjalah di ladang Tuhan, sebab ada tertulis “Carilah dahulu Kerajaan Allah maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu”

Nyi Roro Kidul Sang Putri Batak

Sabtu, 10 Agustus 2013

MAJALAH MULAJADI

Siboru Biding Laut adalah kembaran dari Gumellenggelleng alias Biakbiak alias Raja Uti. Setelah Raja Uti pergi bersemedi di Gunung Pusuk Buhit, maka Siboru Biding Laut adalah anak tertua dari Guru Tatea Bulan dan sebagai penggantinya untuk mengayomi adik-adiknya setelah kematian kedua orangtuanya.

Sebelum meninggalkan kampungnya untuk pergi jauh menghindar dari rencana pembunuhan oleh adik-adiknya, Sariburaja mernanggil dan berkata kepada kakak perempuannya Biding Laut, katanya; “Kakak adalah anak yang paling sulung dari keturunan orang tua kita, oleh ¬karena itu saya mohon agar kakak menjaga dan membina adik-adik kita semuanya. Saya Sariburaja adikmu yang seharusnya menerima tanggung jawab tersebut merasa gagal dan akan pergi meninggalkan tempat ini, karena adik kita Limbong Mulana dan Sagalaraja akan membunuh saya. Kakak tidak perlu mencariku! permintaanku agar
Ilustrasi/ Gambaran
Nyi Roro Kidul/ Sibiding laut
kaka menjaga dan mernelihara adik kita serta dapat mengayomi dan memelihara keutuhan nama besar keluarga kita.” Biding Laut terdiam, air matanya menetes membasahi pipinya. Dia berkata; “Adikku Sariburaja kemanakah gerangan kau akan pergi ? Kau adalah adikku juga dan sudah seharusnya menjagamu dari segala marabahaya. Apalagi yang bermaksud akan membunuhmu adalah adik-adik kita juga!”

Setelah Sariburaja dan Siboru Pareme sudah tidak bersama mereka lagi, Siboru biding Laut merasa bersalah karena merasa tak mampu berbuat agar keluarga tetap bersatu. Siboru Biding Laut memutuskan untuk mencari Sariburaja adiknya.

Siboru Biding laut pergi ke-arah barat untuk mencari Sariburaja sambil memastikan bahwa Sariburaja masih hidup. Perjalanan Siboru Biding Laut dalam pencariannya dilakukan siang dan malam menempuh hujan dan terik matahari ke-arah barat sesuai petunjuk adiknya itu.

Siboru Biding Laut tiba disebuah desa ditepi pantai dan menjumpai seorang nelayan dan menanyakan kepada nelayan itu apakah dia pernah melihat orang asing ada tinggal disekitar desa itu. Siboru Biding Laut tidak pernah mendapat jawaban yang memuaskan dari orang-orang yang ditanyainya.

Perjalanannya menyusuri pantai barat Sumatera itu dilaluinya penuh dengan tantangan alam. Angin kencang yang datang dari samudra Hindia dibawah terik matahari pantai membuat tubuhnya lemah lunglai karena kekeringan mengalami dehidrasi. Langkahnya yang gontai mengarahkannya untuk beristirahat sejenak di atas sebuah bangkai kayu yang sudah lapuk dihempaskan oleh ombak lautan. Siboru Biding Laut duduk mengarah lautan bebas dan bertopang dagu sambil mengira-ngira dimana kira-kira adik yang sedang dicarinya Sariburaja. Mata yang sebenarnya memandang kosong ke lautan bebas tiba-tiba terpaku kepada sebuah pulau kecil, lalu diya meyakinkan dirinya bahwa adiknya itu kemungkinan besar berada dipulau itu untuk bersembunyi.

Siboru Biding Laut menumpang sebuah perahu nelayan dan meminta agar dia dihantarkan kepulau itu, dan nelayan itu menyebut namanya Pulau Mursala. Ada keheranan dibenak nelayan itu karena pulau itu diketahuinya tidak berpenghuni. Keingintahuannya mengarahkan hatinya untuk bertanya; “Untuk apa ito pergi ke pulau itu?” tanyanya menyelidik; “Aku sedang mencari adikku Sariburaja yang pergi dan hilang entah kemana, apakah ito pernah dengar seseorang yang bernama Sariburaja.” Demikian jawabnya sambil bertanya. “Sepertinya tidak pernah terihat orang asing bernama Sariburaja disekitar sisi, tapi mungkin saja dia bersembunyi di pulau itu”, demikian balas si nelayan.

Setiba di Pulau Mursala, Siboru Biding Laut menyusuri setiap sudut pulau itu namun dia tidak menemukan siapa-siapa di pulau itu. Keletihannya membuat dia mengantuk dan tertidur. Dia tidak menyadari bahwa tak seorangpun ada di pulau itu sementara nelayan yang menghantarkannya sudah kembali pulang.
Sementara itu seorang pemuda yang sudah beberapa lama memperhatikan Siboru Biding Laut sewaktu mondar mandir sambil menangis seperti mencari sesuatu. Pemuda itupun mengikutinya sejak dihantar oleh nelayan ke pulau itu. Pemuda itu pergi menuju Pulau Mursala untuk mencari tau apa gerangan yang dicari oleh gadis cantik di pulau yang tak berpenghuni dan dia menganggapnya merupakan hal yang tak lazim dilakukan oleh seorang wanita.

Pemuda itu menemukan Siboru Biding Laut sedang tertidur pulas. Dia mencoba untuk membangunkannya dengan maksud untuk menawarkan membawanya kembali ke pantai. Siboru Biding Laut terbangun dan melihat seorang pemuda berdiri dihadapannya. “Ito, mari saya hantar kembali ke pantai, karena tak baik seorang gadis cantik tinggal sendirian di pulau yang tak berpenghuni ini” demikian kata pemuda itu meyakinkannya. Siboru Biding Laut mengikuti ajakan pemuda itu sambil berucap, “Terimakasih ito” jawabnya singkat, tetapi dalam hatinya berkata, “Baik nian anak muda ini”.

Sambil berjalan menuju pantai pulau itu dimana sampannya ditambat, pemuda itu berkata, “Saya sebenarnya sudah lama memperhatikan ito sewaktu di daratan, dan melihat itu berwajah sedih dan menangis, makanya saya tertarik mengikuti perjalanan ito.” Demikian kata pemuda itu mulai menyampaikan maksudnya. Siboru Biding Laut hanya berdiam tidak membalas, karena pikirannya hanya tertuju kepada adiknya Sariburaja yang belum ditemukannya. Lalu pemuda itu mulai menggodanya sambil bertanya, “Mengapa secantik ito terlihat bersedih dan menangis? Apa ada yang menyakiti ito?” tanyanya menyelidik. “Aku sedang mencari adikku yang tak tau kemana rimbanya,” demikian jawaban Siboru Biding Laut singkat. “Mengapa ito mau mencari orang yang tak tau dimana rimbanya, bagaimana kalau ito tinggal bersama saya saja dan saya persunting menjadi istri saya?” demikian kata pemuda itu menyampaikan maksudnya.

Mendengar maksud pemuda itu, Siboru Biding Laut tersinggung dan berkata, “Saya mengira ito orang baik-baik ternyata tidak, sebaiknya ito pergisaja dari sini dan biarkan saya tinggal disini, aku tak perlu bantuanmu, dan jangan ikut campur urusanku,” katanya dengan sinis. Sambil menghentikan langkah, walaupun tersinggung, pemuda itu masih mencoba menjelaskan maksudnya, lalu berkata, “Ito jangan marah dulu, saya mengatakan apa adanya bahwa saya memang terpesona melihat kecantikan ito sehingga sepertinya aku sudah jatuh cinta pada ito, makanya aku memberanikan diri untuk mengajak ito kawin dengan saya” katanya meyakinkan. Karena Siboru Biding Laut memang sedang gundah gulana mencari adiknya itu sehingga dia tidak mempan akan rayuan si pemuda itu dan bahkan hatinya menjadi marah dan membalas perkataan pemuda itu dengan ketus dan sikap marah, “Sekali lagi saya ingatkan supaya ito pergi saja dari sini, aku tak perlu bantuanmu,” katanya dengan tegas.

Jawaban-jawaban Siboru Biding Laut membuat pemuda itu tersinggung. Dia belum pernah mendapat sambutan yang sinis atas niatnya yang baik. Dengan rasa malu dia melangkahkan kakinya menuju sampannya dan mengayuhnya menjauhi pulau Mursala. Sesampai di desanya, dia menyampaikan cerita Siboru Biding Laut dengan pemuda-pemuda lainnya bahwa Siboru Biding Laut menentang kesaktian dengan pemuda desa itu. Mendengar pengaduan tersebut, para pemuda di desa itu menjadi marah dan malam itu juga mereka berangkat ke Pulau Mursala untuk menjawab tantangan yang diceritakan pemuda itu.

Sesampai di Pulau Mursala, para pemuda itu langsung menjumpai Siboru Biding Laut dan mengeroyoknya. Siboru Biding Laut diikat dan pakaiannya ditanggali, lalu masing-masing memperkosanya bergantian hingga tak sadarkan diri. Tidak hanya sampai disitu, dalam keadaan pingsan setelah pelampiasan nafsunya, mereka membuang tubuh Siboru Biding Laut ke dalam laut dari tebing curam bebatuan di pulau itu.

Karena terombang ambing ombak lautan hindia yang ganas itu, Siboru Biding Laut segera sadarkan diri dan dengan bersusah payah berusaha menepi dari laut. Tubuhnya sekarat terhempas bebatuan karang laut dan dengan suara yang hampir tak kedengaran, dia memanggil-manggil nama ayah dan ibunya yang sudah almarhum itu. Dia juga memanggil-manggil nama abangnya Raja Uti yang telah menjadi pertapa sakti, namun tak ada jawaban sampai dia merasa sudah tak bertenaga lagi menuju kematiannya. Perlahan dan pasti tubuhnya menjadi tak berdaya menepi kepantai dan lantas terbawa hempasan ombak menuju ketengah lautan. Yang terakhir terngiang dipikirannya adalah mencari adiknya Sariburaja kemanapun dan dimanapun sampai akhir hayat.

Gelombang ombak Samudra Hindia mengombang ambingkan tubuh Siboru Biding Laut kemana arus ombak menghantarkannya. Tiba di suatu saat dia terdampar di pantai suatu daerah yang tidak diketahuinya dimana dia sedang berada. Keberadaannya disebuah daerah yang asing baginya mengarahkannya untuk bertanya kepada orang yang dijumpainya. Orang-orang setempat juga telah melihat adanya orang asing berada di daerah mereka. Lalu mereka bertanya kepada Siboru Biding Laut, “Neng ini siapa dan darimana asalmu?”. “Saya dari laut selatan dan sedang mencari adik saya yang hilang,” demikian jawabnya karena dia memang terombang-ambing dan terdampar di lautan sebelah selatan khatulistiwa. Kemudian dia bertanya kepada masyarakat disitu, “A..ak, apa nama daerah ini? Apa pernah melihat orang asing bernama Sariburaja di daerah ini?” tanyanya dengan lugu. “Ini daerah Pelabuhan Ratu namanya, neng. Tetapi kami tak pernah melihat orang asing yang neng sebutkan!” demikian kata masyarakat disitu.

Siboru Biding Laut melanjutkan langkahnya menyusuri pantai dan hutan-hutan sekitarnya untuk mencari Sariburaja. Tekatnya sudah bulat harus menemukan adiknya itu. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan namun Sariburja tidak juga ditemukannya. Kehilangan Sariburaja memang bagai ditelan bumi saja baginya. Langkah kakinya ke arah timur itu terhenti setelah melihat dari kejauhan sebuah kawasan datar yang indah. Dia berhenti sejenak untuk melepaskan lelahnya. Dalam hatinya berkata, “di ‘andaran’ sana pasti ada penghuninya, saya harus ke sana untuk mencari adikku, mungkin dia ada disana.” Demikian pikirnya. (Adaran atau andaran dalam bahasa Batak adalah suatu kawasan datar yang terlihat dari jauh).

Setelah lelahnya pulih maka dia melanjutkan pencariannya ke kawasan yang disebutnya andaran itu. Tekat yang demikian kuat meyakinkan dirinya untuk melangkah pasti menuju tujuannya. Tibalah dia dikawasan yang disebutnya andaran itu yang ternyata kawasan pantai indah di selatan Pulau Jawa itu. Masyarakat disitu disibukkan dengan kegiatannya masing-masing sebagai nelayan, namun seseorang telah memperhatikan kehadiran Siboru Biding Laut sebagai orang asing.

Siboru Biding Laut mengistirahatkan dirinya sambil duduk disebongkah batu yang ada di pantai itu. Dia menikmati keindahan alam ciptaan tuhan yang begitu dikaguminya. Duduk terpaku dengan pikiran kosong tanpa disadarinya dia sudah duduk disitu dalam waktu lama berjam-jam melamunkan cerita-cerita pencariannya dipikirannya sendiri.

Seseorang yang sudah sejak lama memperhatikan keberadaannya disitu, datang menghampirinya. Siboru Biding Laut tidak menyadari kedatangan seseorang yang sedang menghampirinya. Langkah-langkah kaki yang datang tidak lagi didengarnya karena pikirannya yang berkecamuk tertuju kepada bayangan berjumpa dengan adiknya dalam pencariannya itu, Tiba-tiba satu sentuhan jari di pundaknya mengusik kesadarannya dan suara yang menyapanya menolehkan wajahnya ke arah belakang dan melihat sesosok tubuh berwibawa telah ada disampingnya. “Neng, sedang apa disini?” demikian singkat suara yang bertanya itu. Siboru Biding Laut lantas menjelaskan, “Saya dari laut selatan datang ke andaran sini untuk mencari adik saya yang hilang, apa mungkin tuan ada melihat orang asing yang berkeliaran disini, mungkin dia adalah adik saya,“ demikian penjelasannya. “Saha namina neng?” orang berwibawa itu menanyakan kembali. “Saya tak ingat nama lagi tuan, tetapi nama adik saya adalah Sariburaja,” kemudian dia menjelaskan bagaimana dia dapat sampai di daerah itu.

Lelaki yang menyapanya itu ternyata penguasa daerah andaran itu. Dia adalah orang sesaktian yang menjadi raja penguasa. Atas pengaduan masyarakat disitu tentang Siboru Biding Laut sebagai orang asing yang berkeliaran sudah seharusnya mendapat hukuman karena tidak melaporkan kehadirannya di daerah kekuasaan raja itu. Karena mendengar cerita Siboru Biding Laut maka timbul rasa iba bagi raja penguasa itu. Dia memanggil suruhannya untuk membawa Siboru Biding Laut ke istananya dan diperlengkapi dengan pakaian yang baru sebagai ganti pakaiannya yang sudah compang-camping seadanya. Sang raja menganggap bahwa Siboru Biding Laut pastilah seorang sakti sehingga dapat selamat di keganasan alam baik lautan maupun hutan.

Selesai bersalin yang diperlengkapi oleh suruhan raja, maka raja itu menempatkan Siboru Biding Laut sebagai budak pesuruh di istana itu. Badi Siboru Biding Laut hal itu adalah keberuntungan karena dia berkeyakinan akan mendapat informasi tentang adiknya suatu saat. Dia masih bersyukur bahwa masih ada orang yang memperdulikannya walaupun hanya sebagai budak. Dia sempat berpikir bahwa di tanah leluhurnya, dia adalah boru ni raja (putri raja) karena bagi orang Batak tidak memberlakukan perbudakan apabila tidak sedang menjalani hukuman. Bagi Siboru Biding Laut ditempatkan sebagai budak adalah ganti dari hukuman karena dia memang orang yang ada di daerah kekuasaan orang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

Sansakti adalah nama raja yang memungutnya sebagai budak di istana raja. Sansakti memang raja yang disegani, ditakuti dan menjadi panutan bagi masyarakatnya. Tak seorangpun berani melakukan pemberontakan karena Sansakti memang memiliki kesaktian yang sangat tinggi tanpa ada tandingan di kawasan itu. Kerja baik dan tekun yang dilakukan oleh Siboru biding laut menjadikan dia sebagai budak yang disenangi disamping rupanya yang cantik. Tak terasa waktu berjalan sedemikian lama tetapi pencariannya kepada adiknya Sariburaja tidak juga membuahkan hasil, walaupun dia banyak melakukan upaya melalui temannya budak apabila sedang keluar istana.

Perilaku baik menjadi perhatian dari raja Sansakti. Siboru Biding Laut sudah dianggap menjadi putrinya sendiri. Para budak lainnya sudah silih berganti karena humuman yang diterima, tetapi Siboru Biding Laut tetap mengabdi dengan sepenuh hati. Melihat kepatuhan dan baik budi dari Siboru Biding Laut maka dia dipercaya sebagai kepala rumah tangga di istana itu. Kepadanyapun diajarkan ilmu-ilmu pengetahuan termasuk kesaktian agar mampu mengepalai istana. Hati Siboru Biding Laut menjadi betah dan senang tinggal di istana.

Tak sadar perjalanan waktu sudah panjang dijalaninya. Duapuluh tahun tak terasa bahwa dia menjadi penghuni daerah yang disebutnya sebagai Pangandaran. Ilmu pengetahuan dan kesaktian sudah banyak yang digalinya dari raja Sansakti. Dia sudah matang menjadi seorang wanita yang mandiri dan memiliki prinsip hidup walaupun dia hidup dan berada nun jauh dari kampung halamannya. Tekad yang dudah terkandung di dalam hatinya masih tetap tertancap mendalam di hati sanubarinya, namun situasi kadang tidak berpihak kepadanya.

Di suatu hari, Sansakti ingin menularkan ilmu kesaktian yang paling dia rahasiakan. Saatnya sudah tiba untuk menurunkannya kepada Siboru Biding Laut yang dia sayangi. Sansakti berkata; “Aku akan mengajarkanmu ilmu kesaktian agar kau tidak merasa terhina terhadap orang-orang disekitarmu dan aku tau bahwa kau masih terusik akan kehilangan adikmu. Bila memang masih menguat dihatimu untuk mencari adikmu yang hilang maka ilmu yang kuajarkan akan berguna bagimu kelak.”

Siboru Biding Laut bersujud dihadapan Sansakti dan mengucapkan terimakasihnya melalui senyuman dibibirnya yang cantik itu. Para hulubalang kerajaan tentu merasa iri mengetahui bahwa ilmu keakti mereka kalah tinggi dibanding Siboru Biding Laut, namun Siboru Biding laut mengelabui mereka dengan mengatakan bahwa yang terpenting baginya bukanlah ilmu kesaktian yang tinggi. Bahwa dia dapat betah di kerajaan itu sudah merupakan sesuatu yang menyenangkan. Oleh karena itu para hulubalang tidak lagi merasa tersaingi dan Siboru Biding Laut menjadi tidak terusik kesirikan para hulubalang.

Kedekatan Siboru Biding Laut dengan Sansakti tidak lagi seperti biasanya. Pelayanan yang selama ini diberikan Siboru Biding Laut bukan lagi sebatas orang tua dan anak yang diangkat melainkan kebutuhan biologis Sansakti sebagai seorang laki-laki dipenuhinya sebagaimana dia juga memiliki hasrat yang sama. Hubungan intim yang mendewakan kenikmatan badani itu berlanjut sekian lama sehingga tiba saatnya bagi Siboru Biding Laut memberitahukannya kepada Sansakti bahwa dia sedang mengandung anak Sansakti dari hasil kenikmatan birahi mereka selama ini.

Sansakti merasa bahagia bahwa dia akan memiliki anak dari muridnya yang dia sayangi itu, maka dia menitahkan untuk membuat pengumuman dari kerajaan bahwa Siboru Biding Laut menjadi istri yang sedang mengandung anaknya. Harkat Siboru Biding Laut terangkat di kalangan istana. Selain daripada Sansakti maka dialah yang memegang kendali tertinggi di kerajaan.

Tiba waktunya bahwa Siboru Biding Laut akan melahirkan, dan lahirlah seorang putri cantik yang kemudian diberi nama Blorong. Waktu berjalan begitu sempurnah bagi Siboru Biding Laut. Dengan memiliki seorang anak dari Sansakti maka posisinya sudah menjadi permaisuri dengan sebutan nyai atau nyi, namun dia malah terusik kepada penggelaran seorang wanita di tanah leluhurnya bahwa dia memang mendapat sebutan anak ni raja (putri raja), jadi penggelaran ini pada dasarnya bukanlah sesuatu yang hebat menurutnya, malah menjadi timbul niat dihatinya bahwa dia harus menjadi benar-benar sebagai ratu yang menguasai kerajaan di Pangandaran itu.

Niatan yang ada dihatinya ditanamkannya menjadi rencana yang harus diwujudkannya agar tiadalagi penghalang baginya untuk memerintah dengan kuasa penuh sehingga tujuan awalnya untuk mencari adiknya yang bernama Sariburaja menjadi kenyataan disamping agar dia memiliki saudara di kerajaan yang akan dia pimpin kelak, karena pikirnya kalau dia hanya seorang sebagai orang asing di kerajaan itu tentu akan timbul masalah dikemudian hari.

Niatan itupun mulai dilaksanakannya seiring anaknya Blorong sudah bertumbuh semakin besar. Saat itu raja Sansakti sedang termenung, entah apa yang sedang dipikirkannya. Suasana itu terlihat oleh Siboru Biding Laut dan iapun menghampirinya dan berbisik ditelinganya, “Guru, apa gerangan yang sedang dipikirkan?” Saya hanya memikirkan kerajaan ini agar tetap langgeng dikemudian hari semasa saya sudah tua nanti,” demikian kata Sansakti. “Jakanlah terlalu dipikirkan guru, kan semua kerajaan sudah berjalan dengan bai, dan putrimu Blorong sudah semakin ceria bertumbuh menjadi anak manis. Dia akan menjadi ratu nantinya yang akan kita pinangkan dengan pangeran dari kerajaan lain,” demikian dijelaskan Siboru Biding Laut menenangkan hari Sansakti. Siboru Biding Laut merebahkan kepala Sansakti di pangkuannya sambil mengelus-elus kepalanya. Terlihat suasana bahagia di raut wajah Sansakti hingga dia tertidur pulas.

Dalam suasana yang demikian senyap, timbullah niatan di benak Siboru Biding Laut untuk menyingkirkan hambatan satu-satunya agar dia memang benar sebagai penguasa di kerajaan selatan Pulau Jawa itu. Bekal ilmu yang sudah diajarkan oleh gurunya itu sudah setara dan bahkan mungki lebih tinggi karena sudah ada ilmu tinggi yang dibawanya dari tanah leluhurnya dahulu. Diapun menetapkan saat itu menjadi waktu yang tepat baginya, yaitu mencabut nyawa Sansakti dengan ilmu cabut nyawa.

Sansakti mangkat. Siboru Biding Laut memberitahukan kepada hulubalang dan kemudian mengumumkan bahwa dia menjadi pengganti raja yang menjadi ratu penguasa di kerajaan pantai selatan. Lalu dia memproklamirkan dirinya sebagai Ratu Pantai Selatan dengan sebutan nama Nyi Roro Kidul. Kemudian menjadi kenyataan pula bahwa putri satusatunya memang menjadi seorang yang disebut Nyi Blorong.

Menurut ceritanya bahwa Nyi Roro Kidul sang Ratu Pantai Selatan adalah Siboru Biding Laut dari Tanah Batak. Penelusurannya dilakukan oleh keturunan dari Guru Tatea Bulan yaitu ayah kandung Siboru Biding Laut, yang secara gaib telah memaparkan sejarahnya melalui sesurupan arwah adik bungsu Siboru Biding Laut bernama Nantinjo kepada seorang perempuan batak br. Sagala yang tinggal di Cianjur Jawa Barat. Silahkan anda cerna sendiri kebenran cerita ini.

Sumber: disarikan dari buku yang ditulis oleh Sutan Parlindungan Tanjung berjudul “Nyi Roro Kidul keturunan Raja Batak”

Sanggar Seni Budaya Sibunga Jambu SMA 1 Pangururan

MAJALAH MULAJADI

SANGGAR BUDAYA SIBUNGA JAMBU
Dok : Majalah Mulajadi
Untuk menggali, menjaga, melestarikan dan mengembangkan kesenian dan kebudayaan Indonesia pada umumnya dan Budaya Batak  Toba di Kabupaten Samosir pada khususnya maka Saudari  Marlita Simbolon S.Pd tertarik dan berkeinginan yang kuat untuk mendirikan Sanggar Seni Budaya di SMA Negeri 1 Pangururan yang dinamakan SANGGAR SENI SIBUNGA JAMBU, yang sekaligus PENGASUH SANGGAR SENI BUDAYA “ANGEL ELKANEAN Kabupaten Samosir. Mengingat Saudari Marlita Simbolon, SPd  adalah guru bidang studi Seni Budaya  di SMA Negeri 1 Pangururan Kabupaten Samosir yang mengadakan pelatihan seni sebagai kegiatan ekstra kurikuler, yang  bertujuan menyalurkan  bakat-bakat seni  anak didik di sekolah  SMA N. 1 Pangururan.

Untuk melestarikan budaya daerah sehingga tidak hilang ditelan zaman, serta menumbuhkan rasa kepemilikan budaya tersebut dalam hidup sehari-hari, sebagai seorang pengajar seni budaya terlebih sebagai Sarjana Tari Saudari Marlita Simbolon, S.Pd bersama Bapak Zico Mardo Harianja, S.Pd membuka pelatihan di Sanggar seni Budaya Sibunga Jambu seperti seni di bidang tari daerah, musik daerah sekaligus merupakan pengembangan diri bagi siswa yang berminat dan berbakat.
  
Dari semangat yang dimiliki pelatih sanggar yaitu Saudari Marlita Simbolon, S.Pd Bapak Zico Mardo Harianja, S.Pd  bersama anak-anak sanggar sudah banyak prestasi serta penghargaan kepada SMAN 1  yang kami capai baik di tingkat kabupaten, propinsi maupun tingkat nasional. Selain daripada prestasi, Sanggar Seni Budaya Sibunga Jambu juga sering diundang mengisi acara di kabupaten atau acara resmi lainnya.

Materi yang umumnya di sampaikan seperti: Urdot Nahot dalam Tor-tor Batak Toba dan jenis gerakan, juga mempelajari tortor sawan yang disebut pangurason dan juga atraksi sawan napitu. Yang menceritakan : berawal dari satu mimpi seorang Raja konon katanya tinggal di kaki pucuk buhit sangat meresahkan.. dipanggilnyalah seorang Sibaso Bolon mengartikan mimpi tersebut akan terjadi malapetaka sehingga diadakanlah acara pangurason dengan Tor-tor Sawan Pangurason  tujuannya adalah untuk menangkal dan mengusir malapetaka tersebut.

Kisah Aek Sitobu Sira (Full Story)

Rabu, 07 Agustus 2013

Seoran Bocah sedang mengambil air/ Marcopolo Sitanggang
MAJALAH MULAJADI

Pulau Samosir adalah suatu pulau yang memiliki ragam budaya dan juga tempat-tempat wisata yang memiliki nilai historis. Ada banyak objek wisata samosir yang mampu memikat para wisatawan, karena selain pemandangan yang indah ternyata di samosir juga tersimpan berbagai cerita yang terkadang tidak dapat diterima akal sehat namun tetap menjadi suatu hal yang tidak terlepas dari Budaya Batak.


Selain objek-objek wisata yang kita kenal seperti batu hobon, aek sipitu dai dan lainnya, ternyata masih banyak lokasi wisata lain yang tidak kalah menariknya, sehingga sangat perlu kami memberikan bentuk dan gambaran akan lokasi tersebut.

Salah satu yang akan diceritakan adalah Lokasi Aek Sitobu Sira, yang terdapat di daerah Pangururan tepatnya di Desa Pardugul Kabupaten Samosir. Selain sakral tempat tersebut juga memiliki daya pikat, karena memiliki latar belakang cerita yang unik.

Aek Sitobu Sira merupakan Mata air parsadaan (persatuan) seluruh marga Sinurat yang ada di Indonesia bahkan di Dunia. Mata air tersebut konon merupakan hasil doa dari Op. Gumbok Nabolon Sinurat kepada Mulajadi Nabolon (Tuhan Maha Pencipta) agar warga yang berada dalam suatu Kampung (Desa) yang dihuni mendapat air karena sulitnya air pada masa itu.

Sekitar Tahun 1788, terjadilah musim kemarau yang berkepanjangan di Perkampungan Pardudul Samosir, sehingga penduduk yang bermukim diperkampungan itu mengalami krisis air yang sangat luar biasa. Kekeringan yang terjadi bahkan sudah sampai pada batas yang sangat memprihatinkan, dampaknya tidak hanya mempengaruhi warga, tapi juga suan-suanan (sawah/ladang) serta ternak yang ada di desa tersebut.
Hingga pada akhirnya, Ompu Gumbok Nabolon beserta keturunannya sepakat untuk berdoa kepada Mulajadi Nabolon (Tuhan Maha Pencipta) untuk mencari solusi atas kekeringan air yang terjadi. Dan pada akhirnya, Ompu Gumbok Nabolon Sinurat mendapat petunjuk dari Tuhan Maha pencipta melalui suatu penglihatan. Dalam penglihatan tersebut, beliau diajari untuk membuat suatu mata air dengan cara menancapkan tongkatnya ke tanah di tempat yang telah di tentukan Ompui Mulajadi Nabolon (Tuhan Maha Pencipta).

Sesaat, setelah Ompu Gumbok Nabolon menancapkan tongkatnya kemudian mencabut tongkat tersebut, tiba-tiba saja dari tanah tersebut langsung memancar air yang begitu deras sehingga keturunan Op. Gumbok Nabolon menjadi sangat bahagia dan bersukacita atas kejadian itu.

Anehnya, air yang dikeluarkan oleh tanah tersebut tidak pernah berhenti bahkan hingga saat ini walau terjadi musim kemarau yang berkepanjangan. Selain itu, keanehan yang lain juga terjadi pada air tersebut. Ketika warga yang didominasi marga sinurat mengalami kelangkaan makanan, maka air tersebut menjadi solusi dari kelaparan warga.

Kenapa demikian? Karena Ompu Gumbok Nabolon mengetahui sulitnya makanan pada saat itu, sehingga Ompu Gumbok Nabolon menyarankan kepada keturunannya agar disaat keturunannya lapar setelah bekerja seharian di ladang meminum Air itu dicampur dengan garam (garam mudah ditemukan pada saat itu).
Dan mukjijat kembali terjadi, Rasa asin yang pada garam tiba-tiba berubah menjadi rasa manis seperti tebu, selain berubah rasa warga yang meminum juga seketika itu tidak merasa lapar lagi bahkan dapat bekerja kembali dengan keadaan kondisi yang bugar dan semangat.
Ompu Gumbok Nabolon Sinurat kemudian menamakan air tersebut “Aek Sitobu Sira” dan membuat suatu perumpamaan :

Ascim Daini Sira
Tonggi Daini Tobu
Aek Naung Tapitta Nunga
Dapot Dalan ni Ngolu

Hingga saat ini, Mata air Sitobu Sira selalu ramai dikunjungi oleh keturunan Marga Sinurat bahkan dari seluruh Dunia karena air ini diyakini dapat menyembuhkan berbagai penyakit apapun serta memberikan kebaikan bagi pengunjung.

Hal itu dibenarkan oleh para pengunjung yang berasal dari Pekan Baru saat ditemui tim Mulajadi (19/6) di Lokasi Aek Sitobu Sira Desa Pardugul Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir. (MS)

Legenda Asal Usul Si Raja Batak

Rabu, 31 Juli 2013

MAJALAH MULAJADI

Cerita legenda si Raja Batak memiliki kronologis yang berbeda beda dalam pemberitaanya. Namun tidak satu pun yang mampu untuk membuat hak paten cerita tersebut. Selain pada jaman dahulu belum ada yang menuliskan diatas kertas, juga para tokoh-tokoh yang mengerti menuturkannya sudah terlebih dahulu menghadap Yang Maha Kuasa (meninggal). Namun, dari hasil penelusuran beberapa sumber, penulis merangkumnya menjadi sebuah tulisan. Kiranya cerita sangat bermanfaat bagi masyarakat khususnya warga Batak. Agar dalam era modernisasi ini, kita tidak lupa akan nenek moyang kita.

 Awal cerita, di atas langit (banua ginjang, nagori atas) ada seekor ayam bernama Manuk Manuk Hulambujati (MMH) berbadan sebesar kupu-kupu besar yang memiliki telur sebesar periuk tanah. MMH tidak mengerti bagaimana dia mengerami 3 butir telurnya yang demikian besar, sehingga ia bertanya kepada Mulajadi Na Bolon (Maha Pencipta) bagaimana caranya agar ketiga telur tsb menetas.

Mulajadi Na Bolon berkata, “Eramilah seperti biasa telur itu, pasti akan menetas!” walaupun merasa risau MMH menuruti perintah sang mulajadi Na Bolon. dan ketika terlur-telur tersebut menetas, MMH sangat terkejut. Karena ia sama sekali tidak mengenal ketiga makhluk yang keluar dari telur tersebut. Kembali ia bertanya kepada Mulajadi Nabolon dan atas perintah Mulajadi Na Bolon, MMH memberi nama ketiga makhluk tersebut (manusia),  yang pertama lahir diberi nama TUAN BATARA GURU, yang kedua OMPU TUAN SORIPADA, dan yang ketiga OMPU TUAN MANGALABULAN, yang ketiga-tiganya adalah lelaki.

Setelah ketiga putranya dewasa, ia merasa bahwa mereka memerlukan seorang pendamping wanita. MMH kembali memohon dan Mulajadi Na Bolon mengirimkan 3 wanita cantik : SIBORU PAREME untuk istri Tuan Batara Guru, yang melahirkan 2 anak laki laki diberi nama TUAN SORI MUHAMMAD, dan DATU TANTAN DEBATA GURU MULIA dan 2 anak perempuan kembar bernama SIBORU SORBAJATI dan SIBORU DEAK PARUJAR. Anak kedua MMH, Tuan Soripada diberi istri bernama SIBORU PAROROT yang melahirkan anak laki-laki bernama TUAN SORIMANGARAJA sedangkan anak ketiga, Ompu Tuan Mangalabulan, diberi istri bernama SIBORU PANUTURI yang melahirkan TUAN DIPAMPAT TINGGI SABULAN.

Dari pasangan Ompu Tuan Soripada-Siboru Parorot, lahirlah anak yang  wujudnya seperti kadal, Ompu Tuan Soripada menghadap Mulajadi Na Bolon (Maha Pencipta). “Tidak apa apa, berilah nama SIRAJA ENDA ENDA,” kata Mulajadi Na Bolon. Setelah anak-anak mereka dewasa, Ompu Tuan Soripada mendatangi abangnya, Tuan Batara Guru menanyakan bagaimana agar anak-anak mereka dikawinkan.
“Kawin dengan siapa? Anak perempuan saya mau dikawinkan kepada laki-laki mana?” tanya Tuan Batara Guru.

“Bagaimana kalau putri abang SIBORU SORBAJATI dikawinkan dengan anak saya Siraja Enda Enda. Mas kawin apapu akan kami penuhi, tetapi syaratnya putri abang yang mendatangi putra saya,” kata Tuan Soripada agak kuatir, karena putranya berwujud kadal.

Akhirnya mereka sepakat. Pada waktu yang ditentukan Siboru Sorbajati mendatangai rumah Siraja Enda Enda dan sebelum masuk, dari luar ia bertanya apakah benar mereka dijodohkan.
Siraja Enda Enda mengatakan benar, dan ia sangat gembira atas kedatangan calon istrinya. Dipersilakannya Siboru Sorbajati naik ke rumah. Namun betapa terperanjatnya Siboru Sorbajati karena lelaki calon suaminya itu ternyata berwujud kadal.

Dengan perasaan kecewa ia pulang mengadu kepada abangnya Datu Tantan Debata.
“Lebih baik saya mati daripada kawin dengan kadal,” katanya terisak-isak.
“Jangan begitu anakku,” kata Datu Tantan Debata. “Kami semua telah menyetujui bahwa dialah calon suamimu. Mas kawinnya sudah kami terima. Kalau kau menolak, mas kawin itu harus  dikembalikan dua kali lipat jumlah dari yang bapak terima.” Jawab kedua orang tuanya.
Siboru Sorbajati tetap menolak. Namun karena terus-menerus dibujuk, akhirnya hatinyapun luluh juga. Dia pun meminta kepada orangtuanya agar menggelar “gondang” karena ia ingin “manortor” (menari) semalam suntuk.

Permintaan itu dipenuhi Tuan Batara Guru. Maka sepanjang malam, Siboru Sorbajati manortor di hadapan keluarganya. Menjelang matahari terbit, tiba-tiba tariannya (tortor) mulai aneh, tiba-tiba ia melompat ke “para-para” dan dari sana ia melompat ke “bonggor” kemudian ke halaman dan yang mengejutkan tubuhnya mendadak tertancap ke dalam tanah dan hilang terkubur!

Keluarga Ompu Tuan Soripada amat terkejut mendengar calon menantunya hilang terkubur dan menuntut agar Keluarga Tuan Batara Guru memberikan putri ke-2 nya, Siboru Deak Parujar untuk Siraja Enda Enda.
Sama seperti Siboru Sorbajati, ia menolak keras. “Sorry ya, apa lagi saya,” katanya. Namun karena didesak terus, ia akhirnya mengalah tetapi syaratnya orang tuanya harus menggelar “gondang” semalam suntuk karena ia ingin “manortor” juga. Sama dengan kakaknya, menjelang matahari terbit tortornya mulai aneh dan mendadak ia melompat ke halaman dan menghilang ke arah laut di benua tengah (Banua Tonga). Di tengah laut ia digigit lumba-lumba dan binatang laut lainnya dan ketika burung layang-layang lewat, ia minta bantuan diberikan tanah untuk tempat berpijak. Sayangnya, tanah yang dibawa burung layang-layang hancur karena digoncang NAGA PADOHA.

Siboru Deak Parujar menemui Naga Padoha agar tidak menggoncang Banua Tonga.
“OK,” katanya. “Sebenarnya aku tidak sengaja, kakiku rematik. Tolonglah sembuhkan.”
Siboru Deak Parujar berhasil menyembuhkan dan kepada Mulajadi Na Bolon dia meminta alat pemasung untuk memasung Naga Padoha agar tidak mengganggu. Naga Padoha berhasil dipasung hingga ditimbun dengan tanah dan terbenam ke benua tengah (Banua Toru). Bila terjadi gempa, itu pertanda Naga Padoha sedang meronta di bawah sana.

Alkisah, Mulajadi Na Bolon menyuruh Siboru Deak Parujar kembali ke Benua Atas. Namun dia menolak. Karena dia lebih senang tinggal di Banua Tonga (bumi), Mulajadi Na Bolon mengutus RAJA ODAP ODAP untuk menjadi suaminya dan mereka tinggal di SIANJUR MULA MULA di kaki gunung Pusuk Buhit.
Dari perkawinan mereka lahir 2 anak kembar : RAJA IHAT MANISIA (laki-laki) dan BORU ITAM MANISIA (perempuan). Tidak dijelaskan Raja Ihat Manisia kawin dengan siapa, ia mempunyai 3 anak laki laki : RAJA MIOK MIOK, PATUNDAL NA BEGU dan AJI LAPAS LAPAS. Raja Miok Miok tinggal di Sianjur Mula Mula, karena 2 saudaranya pergi merantau karena mereka berselisih paham.

Raja Miok Miok mempunyai anak laki-laki bernama ENGBANUA, dan 3 cucu dari Engbanua yaitu : RAJA UJUNG, RAJA BONANG BONANG dan RAJA JAU. Konon Raja Ujung menjadi
leluhur orang Aceh dan Raja Jau menjadi leluhur orang Nias. Sedangkan Raja Bonang Bonang (anak ke-2) memiliki anak bernama RAJA TANTAN DEBATA, dan anak dari Tantan Debata inilah disebut SI RAJA BATAK, YANG MENJADI LELUHUR ORANG BATAK DAN BERDIAM DI SIANJUR MULA MULA DI KAKI GUNUNG PUSUK BUHIT!
Dari kaki gunung pusuk buhit inilah dipercayai keturunan orang batak menyebar luas hingga ke penjuru dunia.

Sumber : dari berbagai buku dan cerita tokoh masyarakat Sianjurmula-mula

Pulau Berjalan di atas Pea Arung

MAJALAH MULAJADI

Pulau Berjalan/ Marcopolo Sitanggang
Jika bicara tentang pulau Samosir tentu pertama sekali yang terlintas dipikiran adalah tentang keindahan Pulau Samosir. Pulau Samosir yang juga merupakan salah satu dari 10 pulau terunik didunia ini menyimpan berbagai keanekaragaman seni dan budaya. di tempat ini juga banyak dijumpai lokasi-lokasi wisata yang unik.

Beberapa lokasi tersebut diantaranya seperti Pusuk Buhit, Aek Sipitudai (Air tujuh rasa), Batu Hobon dan lain-lain yang memiliki latar belakang cerita/ sejarah unik. selain itu salah satu yang akan dibahas disini adalah salah satu lokasi yang tidak kalah uniknya dengan lokasi lain yaitu Dataran Berjalan atau sering disebut warga setempat sebagai Pulau Berjalan yang berada di atas danau kecil dengan nama pea arung. lokasi ini terletak di kawasan Pangururan Kabupaten Samosir tepatnya di Desa Parbaba Dolok Kecamatan Pangururan.
Keunikan tempat ini tidak terlepas dari cerita warga setempat yang terkadang tidak dapat di terima oleh akal sehat dan warga sangat menyakini cerita tersebut turun temurun.

Seorang Tokoh Masyarakat di Desa itu, Manurun Sitindaon menceritakan kepada media ini, bahwa dahulu sekali, dataran atau Pulau Berjalan itu berasal dari seekor ular besar yang sedang bersemedi dengan melilitkan dirinya sehingga membentuk kerucut tepat berada di tengah pea (danau) arung kecil tersebut. beberapa lama bersemedi/ bertapa tubuh ular itupun akhirnya ditumbuhi lumut dan membentuk suatu pulau.
Menurut orang tua dulu lanjutnya, ular itu adalah merupakan sahabat dari Raja Sisingamangaraja yang memberitahukan jalan keluar dari hutan belantara ketika beliau tersesat di dalam hutan. “ setelah menyelamatkan Raja Sisingamangaraja, mereka (Sisingamangaraja dan Ular/red) akhirnya berpisah di sekitar pea arung” kata Manurun Sitindaon yang juga Kepala Desa di tempat itu.

Cerita ini juga diamini oleh warga sekitarnya, menurut warga banyak kejadian-kejadian aneh pernah terjadi di pea arung itu, seperti pernah seorang warga yang sedang memancing di danau tersebut karena kesal belum juga mendapatkan ikan setelah sekian lama menunggu, ia kemudian melontarkan kalimat “bah.. andigan be mangaloppa dekke on” (bah..kapan lagi memasak ikan ini) seketika itu ia mendapatkan ikan dari pea tersebut dalam keadaan masak.

Dataran yang berada di atas pea itu dikatakan berjalan karena hampir setiap hari Dataran tersebut berpindah tempat walaupun tidak ada angin kencang. bahkan pernah sekali warga menambat dataran itu namun yang terjadi malah tali tambatnya terputus.

Hal inilah yang membuat lokasi ini dikatakan unik apalagi warga sekitar juga mengatakan kalau lokasi tersebut termasuk tempat yang sakral. sehingga tidak sembarang orang boleh berkata-kata kotor.

(Marcopolo Sitanggang, ST)

SIPITU DAI PERMANDIAN SIBORU PAREME

MAJALAH MULAJADI

Membicarakan potensi wisata Samosir memang tidak akan terasa puas bila kita tidak langsung datang dan menginjakkan kaki ke Pulau Samosir . Hal ini wajar karena potensi-potensi wisata di sana sangat banyak hamper di setiap tempat seputaran pulau samosir. Selain keindahan alamnya, juga banyak ditemukan situs-situs budaya yang sangat sacral dan unik. Bila dipadukan dengan cerita sejarah, boleh dibilang daerah ini adalah salah satu lumbung cerita sejarah yang dapat menemani perjalanan wisata Anda. Dari sekian banyaknya obyek wisata alam yang mengandung sejarah, dapat dinikmati di kecamatan Sianjur Mulamula. Misalnya Batu Hobon, Sopo Guru Tatea Bulan, Perkampungan Siraja Batak, Pusuk Buhit, Batu Sawan dan lain sebagainya.

Dari atas perbukitan sekitar kaki puncak Pusuk Buhit ini kita dapat melihat secara langsung panorama yang memang sangat indah tersaji. Sebagai wisatawan yang baru pertama berkunjung ke sana pasti akan tertegun sejenak. Selain kita dapat melihat dengan leluasa sebagian besar kawasan perairan Danau Toba, juga dapat menikmati berbagai keunikan-keunikan wisata alam Pulau Samosirnya. dimana pengunjung juga dapat menikmati panorama perkampungan yang menyajikan ornament dan gorga batak. Kampung-kampung itu berada di antara lembah-lembah perbukitan, misalnya perkampungan Sagala, Perkampungan Hutaginjang yang membentang luas.

Selain pemandangan ini, wisatawan yang pernah datang ke sana tentunya akan melihat dan mendengar gemercik aliran air terjun yang berada persis di perbukitan yang berdekatan dengan perkampungan Sagala dan air terjun Sampuran Efrata di kecamatan Harian. Masih dari lereng bukit yang jalannya berkelok-kelok tetapi sudah beraspal dengan lebar berkisar 4 meter, para pengunjung juga bisa memperhatikan kegiatan pertanian yang dikerjakan oleh masyarakat sekitarnya. Malah yang lebih asyik lagi adalah mereka dapat menikmati matahari yang akan terbenam dari celah bukit dengan hutan pinusnya.

Bila hendak menjelajahi puncak gunung tersebut para pengunjung dapat menggunakan kendaraan roda empat atau roda dua. Namun kendaraan-kendaraan tersebut tidak dapat mengantar kita sampai ke puncak bukit. Hanya sampai perkampungan yang berada di lereng bukit bukit tersebut. Bila berkunjung ke samosir lintas darat, anda dapat menikmati pemandangan yang sangat indah dari Menara Pandang Tele di pagi hari. Dari sana akan tampak jelas Puncak Pusuk Buhit dan indahnya perkampungan si Limbong Mulana di Kecamatan Sianjur Mula-Mula. Dari desa tersebutlah kita memulai perjalan menuju puncak Pusuk Buhit. Dan bila cuaca cerah, kita dapat melihat keindahan sebagian danau toba yang sangat menakjubkan.
Bukan hanya itu saja bila kita menelusuri Gunung Pusuk Buhit. Pengunjung juga dapat menikmati apa yang langsung aek sipitu dai atau air Tujuh Rasa. Konon menurut keterangan dari penduduk setempat sumber mata air ketujuh pancurannya hanya satu mata air. Namun rasanya menjadi tujuh rasa ketika melewati kei tujuh pancurannya. Asin, asam, manis, tawar dan rasa lainnya yang tidak dapat tertuliskan. Rasanya hanya dapat dibedakan oleh orang yang menicicipinya saja. Namun, hamper tidak dapat ditentukan jenis rasanya seperti rasa air yang lazim di temui sehari-hari.

Sampai saat ini, air tersebut masih menjadi kebutuhan pokok bagi masyarakat/penduduk sekelilingnya. Karena di sekitar lokasi, tidak dapat ditemukan sumber mata air tawar yang dapat dipergunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Sehingga tidak mengherankan kalau wisatawan yang datang, sering melihat banyak penduduk sedang melakukan aktifitas mandi/mencuci di bawah mata air sipitu dai.

Menurut penuturan penduduk setempat , keberadaan Aek Sipitu dai ini sudah sangat lama dan melegenda. Tidak satupun informasi yang dapat memastikan usia mata iar tersebut. Dapat diyakini kalau mata air tersebut sudah ada dalam masa sebelum si raja batak lahir dan oleh penduduk setempat dipercayai bahwa mata air tersebut sangat sacral. Dan diyakini aek sipitu dai inilah permandian si Boru Pareme saat bertemu dengan si Raja Lontung yang kemudian dipersunting menjadi Isteri.

Jikalau mata air ini tetap terjaga dan dirawat, tidak tertutup kemungkinan aek sipitu dai akan menjadi ikon pariwisata internasional. Dan diharapkan dapat dinobatkan menjadi salah satu sumber mata air ter unik di dunia. Walaupun rasanya yang sangat unik, belum pernah terdengar sekalipun pengunjung yang mencicipinya merasakan gangguan pencernaan ataupun gangguan kesehatan. Justru para pengunjung sering memasukkan air tersebut ke berbagai wadah/jeregen air dan membawanya sebagai oleh-oleh/souvenir ke asal masing-masing.
 
Untuk sampai ke aek sipitu dai dapat ditempuh dengan dua jalur berbeda. Pertama, dari kota Pangururan dengan jarak tempuh sekitar 7 km yang melintasi desa tanjung bunga, desa boho lalu masuk melalui simpang Limbong atau  dari Tele turun melintasi Menara Pandang Tele, simpang Harian dan masuk ke simpang Limbong. Kedua, dari kota Pangururan menuju Air Hangat/hot spring, beberapa desa di sagala lalu naik ke negeri Limbong yang jarak tempungnya sekitar 15 km lebih. Namun untuk sementara ini jalur kedua ini  masih kurang diminati para pengunjung. Selain jarak tempuh lebih jauh, jalan yang akan dilalui masih dalam tahap-tahap perbaikan. Masih banyak badan jalan yang ditutupi tanah longsor dan berlobang-lobang.

Sumber : Dari berbagai tokoh masyarakat Limbong dan penduduk setempat. red 


Binolus Purba tua, laho tu pasingkaman
naburju namarnatua-tua, saidapotan pardaraman

borhat laho mangula, sai dao do parmarahan
jumpang naniluluan, dapot najinalahan

Durhaka kepada Orang Tua Si Mardan berubah menjadi Pulau

Sabtu, 27 Juli 2013

MAJALAH MULAJADI

Berbagai kisah dan cerita tentang legenda anak durhaka. Di antaranya, Malin Kundang di Sumatera Barat yang disumpah menjadi batu, Sampuraga di Mandailing Natal Sumatera Utara yang konon katanya, berubah menjadi sebuah sumur berisi air panas.

Di Kota Tanjungbalai, akibat durhaka terhadap ibunya, seorang pemuda dikutuk menjadi sebuah daratan yang dikelilingi perairan, yakni Pulau Simardan.
Berbagai cerita masyarakat Kota Tanjungbalai, Simardan adalah anak wanita miskin dan yatim. Pada suatu hari, dia pergi merantau ke negeri seberang, guna mencari peruntungan.
Setelah beberapa tahun merantau dan tidak diketahui kabarnya, suatu hari ibunya yang tua renta, mendengar kabar dari masyarakat tentang berlabuhnya sebuah kapal layar dari Malaysia. Menurut keterangan masyarakat kepadanya, pemilik kapal itu bernama Simardan yang tidak lain adalah anaknya yang bertahun-tahun tidak bertemu.
Bahagia anaknya telah kembali, ibu Simardan lalu pergi ke pelabuhan. Di pelabuhan, wanita tua itu menemukan Simardan berjalan bersama wanita cantik dan kaya raya. Dia lalu memeluk erat tubuh anaknya Simardan, dan mengatakan, Simardan adalah anaknya. Tidak diduga, pelukan kasih dan sayang seorang ibu, ditepis Simardan. Bahkan, tanpa belas kasihan Simardan menolak tubuh ibunya hingga terjatuh.
Walaupun istrinya meminta Simardan untuk mengakui wanita tua itu sebagai ibunya, namun pendiriannya tetap tidak berubah. Selain itu, Simardan juga mengusir ibunya dan mengatakannya sebagai pengemis.

Berasal Dari Tapanuli

Sebelum terjadinya peristiwa tersebut, Pulau Simardan masih sebuah perairan tempat kapal berlabuh. Lokasi berlabuhnya kapal tersebut, di Jalan Sentosa Kelurahan Pulau Simardan Lingkungan IV Kota Tanjungbalai, kata tokoh masyarakat di P. Simardan, H.Daem, 80, warga Jalan Mesjid P. Simardan Kota Tanjungbalai.
Tanjungbalai, terletak di 20,58 LU (Lintang Utara) dan 0,3 meter dari permukaan laut. Sedangkan luasnya sekitar 6.052,90 ha dengan jumlah penduduk kurang lebih 144.979 jiwa (sensus 2003-red).
Walaupun peristiwa tersebut terjadi di daerah Tanjungbalai, Daem mengatakan, Simardan sebenarnya berasal dari hulu Tanjungbalai atau sekitar daerah Tapanuli.
Hal itu juga dikatakan tokoh masyarakat lainnya, Abdul Hamid Marpaung, 75, warga Jalan Binjai Semula Jadi Kota Tanjungbalai. “Daerah asal Simardan bukan Tanjungbalai, melainkan di hulu Tanjungbalai, yaitu daerah Porsea Tapanuli,” jelasnya.

Menjual Harta Karun

Dari berbagai cerita atau kisah tentang legenda anak durhaka, biasanya anak pergi merantau untuk mencari pekerjaan, dengan tujuan merubah nasib keluarga.
Berbeda dengan Simardan, dia merantau ke Malaysia untuk menjual harta karun yang ditemukannya di sekitar rumahnya, kata Marpaung.
“Simardan bermimpi lokasi harta karun. Esoknya, dia pergi ke tempat yang tergambar dalam mimpinya, dan memukan berbagai macam perhiasan yang banyak,” tutur Marpaung. Kemudian, Simardan berencana menjual harta karun yang ditemukannya itu, dan Tanjungbalai merupakan daerah yang ditujunya. Karena, jelas Marpaung, berdiri kerajaan besar dan kaya di Tanjungbalai. Tapi setibanya di Tanjungbalai, tidak satupun kerajaan yang mampu membayar harta karun temuan Simardan, sehingga dia terpaksa pergi ke Malaysia. “Salah satu kerajaan di Pulau Penang Malaysialah yang membeli harta karun tersebut. Bahkan, Simardan juga mempersunting putri kerajaan itu,” ungkapnya.
Berbeda dengan keterangan Marpaung, menurut H.Daem, tujuan Simardan pergi merantau ke Malaysia untuk mencari pekerjaan. Setelah beberapa tahun di Malaysia, Simardan akhirnya berhasil menjadi orang kaya dan mempersunting putri bangsawan sebagai isterinya.

Malu

Setelah berpuluh tahun merantau, Simardan akhirnya kembali ke Tanjungbalai bersama isterinya. Kedatangannya ke Tanjungbalai, menurut Daem, untuk berdagang sekaligus mencari bahan-bahan kebutuhan. Kalau menurut Marpaung, Simardan datang ke Tanjungbalai dilandasi karena tidak memiliki keturunan. Jadi atas saran orang tua di Malaysia, pasangan suami isteri itu pergi ke Tanjungbalai. Lebih lanjut dikatakan Marpaung, berita kedatangan Simardan di Tanjungbalai disampaikan masyarakat kepada ibunya. Gembira anak semata wayangnya kembali ke tanah air, sang ibu lalu mempersiapkan berbagai hidangan, berupa makanan khas keyakinan mereka yang belum mengenal agama. “Hidangan yang disiapkan ibunya adalah makanan yang diharamkan dalam agama Islam,” tutur Marpaung.
Dengan sukacita, ibu Simardan kemudian berangkat menuju Tanjungbalai bersama beberapa kerabat dekatnya. Sesampainya di Tanjungbalai, ternyata sikap dan perlakuan Simardan tidak seperti yang dibayangkannya.
Simardan membantah bahwa orang tua tersebut adalah wanita yang telah melahirkannya. Hal itu dilakukan Simardan, jelas Marpaung, karena dia malu kepada isterinya ketika diketahui ibunya belum mengenal agama. “Makanan yang dibawa ibunya adalah bukti bahwa keyakinan mereka berbeda.”
Sementara menurut H. Daem, perlakuan kasar Simardan karena malu melihat ibunya yang miskin. “Karena miskin, ibunya memakai pakaian compang-comping. Akibatnya, Simardan tidak mengakui sebagai orangtuanya.”

Kera Putih dan Tali Kapal

Setelah diperlakukan kasar oleh Simardan, wanita tua itu lalu berdoa sembari memegang payudaranya. “Kalau dia adalah anakku, tunjukkanlah kebesaran-Mu,” begitulah kira-kira yang diucapkan ibu Simardan. Usai berdoa, turun angin kencang disertai ombak yang mengarah ke kapal layar, sehingga kapal tersebut hancur berantakan. Sedangkan tubuh Simardan, menurut cerita Marpaung dan Daem, tenggelam dan berubah menjadi sebuah pulau bernama Simardan.
Para pelayan dan isterinya berubah menjadi kera putih, kata Daem dan Marpaung. Hal ini disebabkan para pelayan dan isterinya tidak ada kaitan dengan sikap durhaka Simardan kepada ibunya. Mereka diberikan tempat hidup di hutan Pulau Simardan. “Sekitar empat puluh tahun lalu, masih ditemukan kera putih yang diduga jelmaan para pelayan dan isteri Simardan,” jelas Marpaung. Namun, akibat bertambahnya populasi manusia di Tanjungbalai khususnya di Pulau Simardan, kera putih itu tidak pernah terlihat lagi.
Di samping itu, sekitar tahun lima puluhan masyarakat menemukan tali kapal berukuran besar di daerah Jalan Utama Pulau Simardan. Penemuan terjadi, ketika masyarakat menggali perigi (sumur). Selain tali kapal ditemukan juga rantai dan jangkar, yang diduga berasal dari kapal Simardan, kata Marpaung.
“Benar tidaknya legenda Simardan, tergantung persepsi kita. Tapi dengan ditemukannya tali, rantai dan jangkar kapal membuktikan bahwa dulu Pulau Simardan adalah perairan.”

Sumber : Rahmad F Siregar (sn)

KOLOM PEMRED

 

© Copyright Majalah Mulajadi